Keanekaragaman jenis rumput di Indonesia

Oleh: Ir. M. Agus Setiana, MS

Rumput di Indonesia sebagian besar termasuk dalam sub-famili Panicoideae, selanjutnya yang cukup banyak adalah sub-famili Bambusoideae dan Chloridoideae . Sub-famili lainnya adalah Aristidoideae, Arundinoideae dan Centothecoideae dengan spesies relatif sedikit. Berdasarkan kajian koleksi herbarium LIPI (Setiana, 2014) terdapat 1044 spesies/sub-spesies/varietas rumput (termasuk 153 jenis dari sub-famili Bambuseae) yang ada di Indonesia atau 11,7% dari jenis yang ada di dunia. Jumlah ini merupakan obyek penelitian dan pengembangan hijauan pakan yang sangat penting baik sebagai individu tumbuhan maupun secara kesatuan dalam suatu ekosistem.

Rumput Indonesia tersebar dari Sabang sampai Merauke termasuk di dalamnya Semenanjung Melayu, kepulauan Philipina dan Papua Nugini. Hampir di semua tempat ditemukan rumput domestik dengan berbagai ragamnya sesuai dengan keragaman klimatik, edafik, biotik dan ketinggian. Pertumbuhan berbagai jenis rumput sangat tergantung pada toleransi adaptasi rumput terhadap keragaman lingkungan Indonesia sangat bervariasi.  Hal ini merupakan bagian potensi besar rumput untuk diteliti dan dikembangkan sebagai hijauan pakan ternak.

Jenis rumput yang sangat lebar toleransinya dapat ditemui di hampir setiap tempat, dari tepi pantai sampai pegunungan. Jenis rumput tersebut antara lain Cynodon dactylon (L.) Pers., Eleusine indica (L.) Gaert., Panicum repens L. dan Eragrostis amabilis (L.) Wight & Arnott ex Nees. Sedangkan jenis rumput yang memiliki toleransi adaptasi yang rendah hanya dapat ditemui pada area yang sangat terbatas.  Misalnya Pseudoraphis spinescens (R. Br.) Vickery, hanya dapat ditemui di ketinggian lebih dari 1000 dpl dan air tergenang. Rumput ini di temukan di Situ Patenggang, Ciwideuy, Bandung Selatan.

Di Danau Panggang di Pulau Kalimantan, padihiang (Oryza rufipogon Griffith) dan udul-udul (Hymenachne amplexicaulis (Rudge) Nees) merupakan makanan utama kerbau rawa. Di daerah ini pula ditemui Cynodon dactylon yang berperan penting sebagai hijauan pakan bagi kerbau saat musim kemarau. Rumput tersebut tumbuh di tepian hutan sebagai pakan bagi induk dan anak yang belum lepas sapih. Menurut kearifan lokal, rumput Cynodon dactylon (L.) Pers. dapat meningkatkan produksi susu induk. Hal ini menunjukkan adanya peran rumput lebih dari sebagai sumber energi bagi ternak, dimungkinkan sebagai sumber mineral dan vitamin.

Sepanjang pesisir yang berkadar garam tinggi ditemukan cukup banyak jenis rumput, bahkan dapat tumbuh di tepi pantai, bersentuhan langsung dengan air laut. Lepturus repens (G. Fort.) R. Br., Thuarea involuta (G. Forst.) R. Br. ex Sm., Ischaemum muticum L., Panicum repens L. dan Spinifex littoreus (Burm. F.) Merr. banyak ditemui di pantai berpasir. Beberapa jenis rumput yang tumbuh di area pantai dengan kondisi dekat daratan antara lain Chloris barbata Swartz., Imperata cylindrica (L.) P. Beauv. dan Zoysia matrella (L.) Merr..

Pada area hutan yang lembab dan naungan tinggi biasanya ditemukan rumput berdaun lebar antara lain Centotheca lappacea (L.) Desv., Setaria palmifolia (Koenig.) Stapf., Pseudechinolaena polystachya (Kunth.) Stapf., Oplismenus burmannii (Retz.) P. Beauv. dan berbagai jenis bambu. Area terbuka dengan cahaya matahari penuh, curah hujan relatif rendah dan tanah yang kering merupakan habitat ideal bagi sebagian besar rumput. Kondisi seperti ini banyak ditemui di daerah Timur Indonesia, terutama NTT, NTB, Sulawesi dan Kepulauan Maluku. Rumput Pennisetum macrostachyum Benth., Pennisetum polystachyon (L.) Schultes dan Imperata cylindrica (L.) P. Beauv.

 

Disarikan oleh Nur Rochmah Kumalasari dari Prosiding Seminar Nasional III HITPI 2014