Mengenal Bangun-bangun (Plectranthus amboinicus L.)

Salah satu jenis keanekaragaman hayati tumbuhan adalah tanaman bangun-bangun (Coleus amboinicus L.)yang memiliki potensi sebagai laktagogum. Tanaman ini banyak ditemukan di Provinsi Sumatera Utara (Sajiminet al., 2011). Daun dari tanaman bangun-bangun beraroma khas dan termasuk kedalam kelompok tanaman aromatik Sejak zaman dahulu kala masyarakat Toba telah mengenal tanaman ini dan dikonsumsi oleh ibu-ibu yang baru melahirkan sebagai sayuran yang bermanfaat untuk memperbanyak air susu. Disamping itu berdasarkan hasil penelitian tanaman bangun-bangun juga bermanfaat sebagai laktagogum pada hewan.

Nama binomial tanaman bangun-bangun adalah Plectranthus amboinicus yang dulu dinamakan sebagai Coleus amboinicus. Tanaman bangun-bangun berasal dari bagian selatan dan timur Afrika (Aziz, 2013). Di Indonesia tanaman bangun–bangun mempunyai nama khas tergantung daerahnya, di Sumatera Utara dikenal dengan nama bangun-bangun atau torbangun, di Jawa Barat dikenal denganAjeran atau Acerang, di Jawa daun Kucing, di Madura daun Kambing, di Bali Iwak dan di Timor dikenal dengan Etu (Damanik et al. 2001; Heyne 1987). Tanaman bangun-bangun termasuk herba sukulen semi semak tahunan dengan tinggi 100-120 cm dan tidak berumbi (Aziz, 2013).

Ciri-ciri dari tanaman bangun-bangun adalah batang berkayu lunak dengan tinggi batang 100-120 cm dan tidak berumbi, memiliki batang beruas dan bentuk bulat, diameter pangkal ± 15 mrn, tengah ± 10 mm dan ujung ± 5 rnm. Daun bangun-bangun termasuk daun tunggal, dengan helaian bundar telur, panjang daun ± 3,5-6 cm, pinggirnya bergerigi memiliki panjang tangkai ± 1,5-3 cm, dan tulang daun menyirip (Gambar 1) (Heyne, 1987; Aziz, 2013).

Menurut Sihombing (2006), kandungan senyawa kimia pada tanaman bangun-bangun diantaranya adalah zat besi dan karotenoid. Kadar FeSO4 pada daun bangun-bangun berperan sebagai sumber besi non heme. Pada ternak, tanaman ini berfungsi untuk menyusun struktur dan proses fisiologis, yang berperan dalam pertumbuhan dan pemeliharaan kesehatan. Beberapa jenis unsur mineral mikro juga terdapat pada tanaman bangun-bangun diantaranya Cu, B dan Zn. Mineral Zn yang berfungsi sebagai kofaktor enzim metabolisme (Tarmidi, 2009).

Kandungan metabolit sekunder saponin, flavonoid, polifenol pada tanaman bangun-bangun berfungsi dalam peningkatan hormon-hormon menyusui, seperti prolaktin dan oksitosin(Damanik, 2001). Menurut Darmono (2007), kekurangan atau lebih unsur mineral mikro akan menyebabkan gangguan sistem fisiologis ternak sehingga dapat menimbulkan penyakit defisiensi mineral. Disamping berpotensi sebagai laktagogum, kandungan minyak atsiri pada tanaman bangun-bangun bermanfaat dalam melawan infeksi cacing, anti jamur dan bakteri. Senyawa  flavonol berperan dalam menghentikan pendarahan, senyawa saponin berperan sebagai anti mikroba (Mardisiswojo dan Rojakmangunsudarso, 1985; Valera et al. 2003).

R. Asra
Program Studi Biologi, Fakultas Sains danTeknologi Universitas Jambi
Jl. Raya Jambi – Muara Bulian Km. 15, Mendalo Darat, JAMBI 36124
Email: revisasra@unja.ac.id