Peran Strategis Hijauan Pakan

Hijauan pakan merupakan bagian tanaman selain biji-bijian yang dapat dikonsumsi ternak secara aman dan berkelanjutan atau yang dipanen untuk pakan.  Istilah hijauan diambil dari penampakan fisik bagian tanaman segar yang berwarna hijau. Istilah hijauan pakan dalam penggunaannya menjadi lebih luas tidak terbatas pada bahan asal tanaman yang segar, namun juga meliputi jerami, bahan asal tanaman yang sudah diawetkan baik kering (hay) maupun awetan basah (silase). 

Hijauan pakan merupakan menu utama bagi ternak ruminansia dengan tingkat konsumsi harian mencapai 70% dari total ransum.  Secara teknis, hijauan pakan sangat berperan dalam menjaga kesehatan dan fungsi rumen.  Keberadaan serat dalam hijauan pakan (selulosa dan hemiselulosa) menjadi sumber energi bagi mikroba rumen, demikian halnya dengan mineral serta protein (terutama dari legum) merupakan sumber N bagi bakteri dan protein produk.

Ketersediaan hijauan pakan dalam ransum ruminansia mutlak diperlukan.  Kekurangan hijauan pakan di beberapa peternakan sapi perah telah menyebabkan umur produktif lebih pendek, dari 6-7 tahun menjadi sekitar 3-4 tahun.  Tidak sedikit induk sapi mengalami kegagalan reproduksi larena penimbunan lemak pada sistem reproduksi akibat peningkatan jumlah konsentrat dalam ransum.  Akibatnya terjadi peningkatan biaya investasi pada usaha sapi perah untuk penggantian ternak.

Hijauan pakan memiliki peran penting dalam menjaga mutu produk ternak melalui kandungan beta caroten, vitamin E, tanin, saponin, xantofil dan senyawa sekunder lain yang memiliki efek herbal, anti oksidan atau anti kualitas yang bermanfaat sebagai pakan fungsional.  Beberapa penelitian menyebutkan bahwa ternak ruminansia yang mengkonsumsi hijauan lebih tinggi menghasilkan kandungan conjugated linole acid (CLA) pada daging dan asam lemak pada susu lebih tinggi serta trans fatty acid (TFA) susu lebih rendah sehingga produk lebih sehat untuk dikonsumsi.

Penggunaan hijauan pakan sebagai menu utama dalam ransum ternak ruminansia dapat mengurang biaya pakan hingga kurang dari 50%.  Sebagai contoh adalah biaya pemeliharaan ternak sapi di Australia dengan menggunakan pakan utama hijauan hanya sekitar $2.8 per minggu sedangkan di pulau Jawa bisa mencapai Rp 84.500 per minggu dengan mengandalkan pemenuhan nutrien dari konsentrat.

Pemeliharaan ternak secara extensif di padang penggembalaan merupakan sistem pemeliharaan paling efisien dalam sistem produksi peternakan. Luas padang penggembalaan di Indonesia hanya sekitar 2.1 juta ha jauh dibawah Australia (99.96 juta ha) atau Mongolia (88.73 juta ha).  Luasan padang penggembalaan ini menurun dibandingkan pada jaman Belanda yang mengharuskan setiap desa memiliki padang penggembalaan.  Penyusutan juga terjadi secara alami melalui reforestasi di beberapa daerah, invasi gulma, dan bencana alam maupun konversi lahan untuk pemukiman dan industri.  Oleh karena itu revitalisasi padang penggembalaan nasional harus segera dilakukan sebagaimana tertera dalam UU no. 18/2009 tentang peternakan dan kesehatan hewan.

Sumber: Abdullah, 2014.

Disarikan oleh Nur Rochmah Kumalasari