Akselerasi pembangunan peternakan melalui pendekatan kawasan produksi berbasis hijauan pakan ternak di Sumatera Barat

BPTUPHT Padang Mangatas

Oleh: Drh. Erinaldi, MM

 

Kebutuhan hijauan pakan ternak di Sumatera Barat mencapai 3.796.475 ton/tahun, dihitung dari jumlah populasi ternak ruminansia yang mencapai 492.919 ekor pada tahun 2013 (data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov. Sumatera Barat). Penyediaan hijauan pakan sangat penting untuk meningkatkan produksi dan produktivitas ternak serta mendukung kesehatan ternak. Saat ini hijauan pakan di Sumatera Barat berasal dari berbagai sumber, diantaranya dari padang penggembalaan (mencapai luas 12.409 ha), kebun hijauan pakan di kelompok dan peternak (198 ha), pemanfaatan integrasi hijauan dari perkebunan kelapa sawit (178.384 ha) dan kakao (135.040 ha) serta area persawahan (235.856 ha).

Akselerasi pembangunan peternakan melalui pendekatan kawasan produksi berbasis hijauan pakan dilakukan melalui optimalisasi pemanfaatan hijauan pakan rumput unggul dan leguminosa. Dengan pemanfaatan bahan pakan yang memenuhi standar kebutuhan ternak ruminansia baik kuatitas maupun kualitas didukung dengan ketersediaan hijauan sepanjang tahun dapat meningkatkan produktivitas ternak. Pemanfaatan hijauan pakan rumput unggul dan leguminosa dengan kualitas dan kuantitas pakan yang tercukupi akan dapat meningkatkan efisiensi biaya produksi. Berdasarkan perhitungan kualitas pakan ternak di daerah Sumatera Barat, dengan pemberian pakan sapi potong dengan rumput unggul (70%) dan leguminosa (30%) sudah mencukupi kebutuhan nutrisi ternak sehingga tidak dianjurkan memberikan konsentrat untuk efisiensi biaya produksi.

Akselerasi pembangunan peternakan perlu didukung dengan peningkatan penguasaan teknologi pengawetan hijauan pakan rumput unggul dan leguminosa dalam bentuk silase agar terpenuhi kebutuhan nutrisi ternak, terutama sapi potong dan sapi perah. Hal ini terutama untuk mengantisipasi penurunan produksi hijauan pakan pada musim kemarau. Pemerintah, dalam hal ini Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov. Sumatera Barat, menerapkan kebijakan pakan ternak berupa:

1. Meningkatkan pemanfaatan bahan pakan lokal yang memenuhi standar kebutuhan ternak ruminansia dan unggas baik kuantitas, kualitas maupun ketersediaan pakan sepanjang tahun.

2. Optimalisasi pemanfaatan hijauan pakan rumput unggul dan leguminosa untuk ternak ruminansia.

3. Penguasaan teknologi pengolahan pakan ditingkatkan pada skala peternak dengan memanfaatkan bahan baku lokal sehingga dapat memenuhi kebutuhan nutrisi ternak.

4. Meningkatkan efisiensi biaya produksi dengan pemanfaatan hijauan pakan rumput unggul dan leguminosa serta bahan baku pakan lokal untuk ternak ruminansia

5. Integrasi tanaman dan ternak Kebijakan pakan ternak yang dicanangkan oleh pemerintah didukung dengan kegiatan APBD dan APBN.

Dalam kegiatan APBD dilakukan dua hal utama, yaitu gerakan menanam rumput secara serempak (GEMARAMPAK) dan penyediaan bibit rumput unggul. Bibit hijauan pakan unggul di Sumatera Barat bersumber dari BPTU Sapi potong – HPT Padang Mangatas, UPTD BPPMT Simpang Empat, dan sumber bibit di kelompok ternak dan peternak. Dalam kegiatan APBN, dilakukan pengembangan padang penggembalaan, inventarisasi lokasi sumber dan jenis bibit/benih tanaman pakan, pengembangan unit usaha bahan pakan, pengembangan integrasi tanaman – ruminansia, pengembangan pabrik pakan skala kecil (PPSK), pengembangan unit pengolahan pakan (UPP) ruminansia, pengembangan lumbung pakan (LP) ruminansia, penguatan sumber bibit/benih hijauan pakan di UPTD serta penanaman dan pengembangan tanaman pakan berkualitas. Upaya percepatan pembangunan peternakan di Sumatera Barat, sangat memerlukan kerja sama dari berbagai pihak, terutama kelompok ternak dan peternak dalam memaksimalkan pemanfaatan lahan untuk penanaman hijauan pakan (rumput unggul dan leguminosa) untuk memenuhi kebutuhan nutrien ternak. Pemanfaatan hijauan pakan unggul dengan keanekaragaman yang tinggi dapat menekan biaya produksi dan meningkatkan daya dukung lingkungan dalam penyediaan pakan ternak yang berkualitas dan kontinyu.

 

 

Disarikan oleh Nur Rochmah Kumalasari dari Prosiding Seminar Nasional III HITPI 2014